BKKBN Terus Fokus Tiingkatkan Kualitas Di Tengah Masa Pandemi Covid-19 Guna Wujudkan Indonesia Maju

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Jakarta (22/04/2020) – Secara garis besar pembangunan kependudukan meliputi 5 aspek penting, yaitu kuantitas penduduk, kualitas penduduk, mobilitas penduduk, data dan informasi penduduk dan penyerasian kebijakan kependudukan. Oleh karena itu dinamika kependudukan akan mempengaruhi arah dan tujuan pembangunan. Jumlah penduduk yang besar, jika diikuti dengan kualitas penduduk yang memadai akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan dalam mewujudkan pertumbuhan penduduk yang seimbang dan mengembangkan kualitas penduduk dapat mempercepat terwujudnya pembangunan nasional yang berkelanjutan. Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2020 menyebutkan bahwa kebijakan pembangunan Kependudukan dan KB meliputi: (1) meningkatkan Akses, Kualitas, Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi serta menguatkan Tata Kelola Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan KB (Banggakencana), (2) meningkatkan akses terhadap layanan dan data kependudukan, (3) meningkatkan kapasitas penduduk usia produktif dan lanjut usia.

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) menjelaskan bahwa, Program Banggakencana ini harus segera dimulai, terutama untuk menindaklanjuti berbagai isu strategis terkait Program Banggakencana yang berkembang di Indonesia saat ini, dan perlu segera mendapat perhatian khusus dengan strategi dan berbagai kegiatan prioritas yang harus dilaksanakan pada tahun 2020. Oleh karena itu, sinergitas dan komitmen para pemangku kepentingan dan mitra kerja dalam implementasi Program Banggakencana di seluruh tingkatan wilayah harus segera ditingkatkan. BKKBN dalam mencapai tujuan dimaksud membutuhkan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, terutama dalam menyusun, mengembangkan, dan menindaklanjuti berbagai kebijakan dan strategi Program Banggakencana tahun 2020 tersebut ke dalam bentuk operasional nyata, serta memiliki output yang terukur, sehingga dapat diimplementasikan secara maksimal guna memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat, imbuh Hasto pada acara Konsolidasi Nasional Program Banggakencana Bidang Pengendalian Penduduk Tahun 2020 melalui Cisco Webex Meetings yang diikuti oleh lebih dari 200 peserta BKKBN Pusat, Perwakilan BKKBN Provinsi, OPD KKB Prov dan OPD KKB kab/kota.

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) berharap, meskipun dalam kondisi Work From Home (WFH) dan menjaga psychal distancing, program kependudukan tetap bisa dijalankan dan tetap berharap kinerja teman-teman di pusat dan daerah bisa dipertahankan dengan baik. Konsep dari penduduk ini adalah menjadi bagian yang terpenting dalam suatu populasi dan dalam hal ini masyarakat atau sebagai bagian dari bangsa diposisikan bukan sebagai beban pembangunan tetapi menjadi bagian dari objek dan harus menjadi titik sentral. Penduduk tentu sebagai subyek dan obyek, kita harus bisa mempelajari dan dipakai sebagai dasar untuk menentukan langkah pembangunan di suatu wilayah karena selalu berubah dari waktu ke waktu, imbuh Hasto. Apabila tidak memperhatikan dinamika penduduk sebagai sumber data atau modal pembangunan yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat, maka akan tidak sesuai dengan arah pembangunan masyarakat. Generasi kita dari waktu ke waktu baik pola, proporsi, atau kuantitas penduduk itu berubah, pada era bonus demografi penduduk usia subur menduduki proporsi yang cukup besar dan juga yang berusia 40 tahun kebawah mendominasi, terang Hasto.

Masa transisi sekarang ini adalah sebagai transisi demografi tahap kedua dan harus berusaha keras untuk mempertahankan penduduk agar tidak terjadi pelonjakkan. Kita memiliki potensi penduduk yang cukup besar berusia produktif dan mempunyai harapan bonus demografi, disisi lain selain kuantitas bahwa perilaku penduduk ini juga berubah karena era digitalisasi yang tidak ditemukan di era 80an dan 90an, meskipun orangnya sama dan proporsinya sama tetapi ekosistemnya berbeda, ekosistem berbeda maka cara berinteraksi pun berbeda. Penduduk yang tidak berinteraksi dan yang berinteraksi akan sangat berbeda. Jika dilihat struktur umur khalayak, maka yang menjadi konstituen utama BKKBN saat ini adalah para millenials : mereka yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000an, millenials dianggap istimewa karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya apalagi dalam hal yang berkaitan dengan konsep hidup dan penggunaan teknologi. Indonesia mencatat jumlah penduduk 265 juta jiwa sebanyak 81 juta jiwa merupakan generasi millenials, tutur Hasto.

BKKBN mengedepankan dan mengembangkan masalah kependudukan agar Pemerintah Daerah dapat melihat bahwa hal tersebut penting, konsep kependudukan yang digalakkan dengan pemerintah daerah harus disertai praktik-praktik secara praktis dari teori kependudukan dan konsep kependudukan didalam penerapan dan implementasi ditingkat masyarakat lebih kepada ke Pemerintah Daerah. Tidak cukup kependudukan itu kita pandang sebagai problematika, tetapi pertumbuhan, fertility Rate dan migrasi juga dipengaruhi dari ekosistem dan mempengaruhi perilaku sikap mental dan mindset. Berdasarkan data UNDes 2019, dalam kurun waktu 5 tahun antara 2015-2020 diprediksi tingkat urbanisasi meningkat dari 53,3 persen menjadi 56,7 persen dan diproyeksikan menjadi 66,6 persen pada 2035. Jumlah itu diprediksi bakal berkontribusi terhadap 85 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB), ungkap Hasto.

Hasto menegaskan, lakukanlah research yang terkait penduduk dan dihubungkan dengan teori yang ada saat ini, apakah sudah mengalami akselerasi pendapatan perkapita, kaitkan dengan angka partisipasi sekolah penelitian dibuat agar menarik dimata publik dan menarik pengambil kebijakan. Apakah pengaruh perempuan kerja atau perempuan yang dirumah dapat membahas tentang keluarga berkualitas, bagaimana peran perempuan menjadi suatu hal yang penting dan menjadi daya ungkit kelompok tertentu yang menjadi tantangan agar kependudukan tidak dilihat sebelah mata, dan juga mengenai lansia dimana angka harapan hidup perempuan jadi lebih baik, maka seperti apa produktifitas lansia dapat mempengaruhi suatu wilayah, apakah pemerintah daerah mempunyai proyeksi tersendiri, ada orientasi angka kemiskinan yang dikontribusi dari kelompok lansia karena banyaknya jumlah janda tua. Konsep pemberdayaan lansia ini diharapkan bisa tetap mempertahankan kualitas kependudukan.

Hasto berharap, ada langkah konkrit dalam pembangunan kependudukan yang bisa menunjang pembangunan dan keluarga berencana. Tentu banyak lagi isu-isu yang harus dipelajari bersama selain bonus demografi, ada Fertility Rate, pelajari resiko terjadinya stunting sehingga penduduk stunting bisa diproyeksikan, seperti apa pola penurunan stunting yang normal. Kajian bermanfaat untuk Pemda dan pengambil kebijakan, bahwa kependuduan belum dilihat dengan baik oleh pengambil kebijakan yang bisa membuat kependudukan menjadi isu yang seksi, yang bisa hanya BKKBN, karena hanya BKKBN yang menangani isu kependudukan. Amanah besar yang ada di bidang kependudukan ini sangat didasari kebersamaan dan sangat penting untuk ditelaah strateginya bersama-sama, tutup Hasto. (HUMAS)