BKKBN Bersama BIG Komitmen Benahi Data Kependudukan Indonesia

Jakarta – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) 18/05/2020 secara virtual melalui aplikasi Cisco Webex. MoU tersebut dilakukan sebagai upaya komitmen dukungan dan peran serta BIG untuk mendukung progran Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Bangga Kencana). Pengelolaan dan pelaksanaan Bangga Kencana diperlukan dukungan komitmen dari peran serta BIG dalam hal penyelenggaraan informasi berbasis geospasial dari data yang tersedia di BKKBN sebagai upaya untuk mengimplementasikan kebijakan pembangunan secara efektif dan efisien. Informasi geospasial dinilai lebih akurat sehingga pelaksanaan Bangga Kencana akan lebih tepat sasaran dan berdaya guna sesuai dengan pemetaan kebumian yang ada di dalam informasi geospasial oleh BIG.

Data Geospasial (DG) sendiri menurut UU Nomor 4 Tahun 2011 pasal 1 adalah data tentang lokasi geografis, dimensi atau ukuran, dan/atau karakteristik objek alam dan/atau buatan manusia yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi. Sedangkan informasi geospasial adalah DG yang sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan/atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian. BKKBN merasa bahwa informasi geospasial mempunyai peran yang strategis untuk pembangunan nasional karena informasi geospasial diyakini dapat membantu pembangunan kawasan perbatasan dan daerah tertinggal, pembangunan desa, mitigasi dan adaptasi bencana.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional dr. Hasto Wardoyo, SP.OG (K) menjelaskan, BKKBN mempunyai urusan tiga hal penting, yaitu Kependudukan, KB dan Keluarga, sehingga visi kita hanya ada 2 yaitu penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas. Keluarga menjadi unit terkecil dalam penduduk, penduduk itu disamping untuk tumbuh seimbang tapi tujuan utamanya supaya bonus demografi bisa dipetik agar penduduk menjadi sumber daya pembangunan bukan beban pembangunan, ungkap Hasto.

Penduduk terdapat unsur kespro dan KB karena memproduksi penduduk itu urusan reproduksi dan tanpa lokasi yg valid maka data tidak ada artinya. Oleh karena itu, BKKBN memakai data mikro keluarga sebagai unit terkecilnya. Family Planning ini bagaimana menyiapkan keluarga menjadi unit analisis terkecil agar bisa melakukan treatment dan diberdayakan. Data menjadi sangat penting, tanpa potret keluarga pun kita tidak bisa bicara apa apa, keluarga jika tidak di diagnosis by name by adress maka treatmennya tidak akan maksimal, tutur Hasto.

Sementara itu, Kepala Badan Informasi Geospasial, Prof. Dr. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc membenarkan data kependudukan sangat penting karena semua proses pembangunan melibatkan manusia dan terkait manusia sebagai objeknya. Jika tidak ada penduduk maka proses pembangunan akan kehilangan maknanya, di BIG terdapat tagline untuk saat ini yaitu Everything Happening Somewhere, tanpa lokasi data kependudukan masih kurang, imbuh Hasanuddin.

BKKBN akan melakukan pendataan keluarga di 2021 dengan memotret 65 juta keluarga satu persatu yg akan dikunjungi, sehingga nantinya semoga bisa memetakan keluarga yang didata melalui GIS dengan baik. BKKBN mempunyai SIGA dan mempunyai kurang lebih 24 ribu petugas KB Se Indonesia yg tersebar di Kecamatan dan Desa, sehingga dengan begitu masalah stunting, kematian Ibu dan bayi kontrasepsi bisa dipetakan dengan baik sangat penuh harap dengan kerjasama ini dibimbing dan dapat arahan serta masukan positif dalam kesuksesan Bangga Kencana untuk menciptakan generasi unggul dan bonus demografi bisa tercapai, terang Hasto.

Kerjasama BKKBN dan BIG sangat penting karena pemanfaatan Geospasial bisa digunakan dalam mendukung program Bangga Kencana, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Masalah kependudukan sangat krusial karena problemnya ujung-ujungnya ada didata, oleh karena itu BIG dan BKKBN diharapkan dapat ikut berkontribusi membereskan data kependudukan Indonesia, tutup Hasto.

 

sumber: bkkbn.go.id