Melindungi Ibu Melahirkan dan Bayi Dari Pandemi Corona

Kehamilan di masa pandemi corona tidak dianjurkan oleh pemerintah. Melalui BKKBN, pemerintah menganjurkan untuk menunda kehamilan. Karena fasilitas kesehatan masih harus menyesuaikan pelayanan di masa pandemi ini. Meskipun begitu, jika memang sudah hamil, pelayanan dan perlindungan terhadap ibu hamil, ibu melahirkan, dan bayi harus tetap maksimal.

“Faktanya, anak adalah yang paling banyak terinfeksi dan meninggal oleh covid-19. Datanya, yang paling banyak meninggal adalah anak di bawah 5 tahun, di bawah 1 tahun dan di bawah 1 bulan. Artinya apa? Saat di RS bisa diawasi, tapi saat pulang belum terlindungi dari covid-19,” ujar dr. Aman Bhakti Pulungan Sp.A.(K), Ketua Umum PP IDAI, dalam Webinar Invest-ASI Indonesia Untuk Bumi yang Lebih Sehat.

dr. Aman menjelaskan, saat pulang, Ibu menyusui dan anak belum terlindungi dari paparan covid. Ada kemungkinan terpapar saat perjalanan pulang, juga saat di rumah.

Komunitas belum ada kesadaran untuk menjaga ibu melahirkan dan bayi. Padahal, setelah melahirkan, Ibu memiliki tugas mulia untuk memberikan ASI atau air susu ibu.

Orang yang tidak mau memberikan karunia ASI kehilangan momentum selamanya. Kandungan gizi ASI ini bagus untuk nutrisi anak. Ada imunitas juga. Ada 5 hormon yang bisa didapat dalam ASI yang akan mencegah stunting yaitu hormon IGF-1, insulin, ghrelin, leptin, dan adiponektin.

“Ini tidak ada dalam susu formula. Kalau dua tahun nggak mau kasih ASI, rugi besar bagi anaknya. Momentum ini jangan sampai kelewat. Karena itu, ibu yang menyusui harus dilindungi,” katanya.

Dari penelitian terungkap fakta anak yang lahir dengan berat badan rendah, dengan ASI eksklusif setelah 6 bulan berat dan tinggi badannya belum bisa kejar tumbuh, tapi lingkar kepalanya bisa kejar tumbuh karena ASI. “Jadi otaknya tetap bagus berkembang berkat ASI,” tegas dr Aman.

Perlindungan di Masa Pandemi

Fasilitas kesehatan mengalami banyak penyesuaian pada masa pandemi Corona. Kondisi Covid memang mempengaruhi semua lini. Layanan puskesmas drop termasuk imunisasi.

“Semua harus kita lindungi, Posyandu, Puskesmas, dan kader harus dilengkapi dengan APD. Cakupan imunimasi cuma 60 persen kalau nggak kita kejar, 2021 wabah lain akan datang. Pastikan bayi memiliki imunimasi dan hak tumbuh sehat terpenuhi dengan memberikan ASI,” kata dr Aman.

Ada 5 tips untuk melindungi ibu menyusui dan bayi dari risiko terpapar virus corona. Berikut 5 tips dari dr. Aman.

1. Selain keluarga inti, jangan menjenguk bayi yang baru lahir. Ini penting untuk menelurusi riwayat perjalanan orang yang menjenguk. Memastikan keluarga inti aman dari risiko sebagai pembawa virus corona.

2. Jangan cium-cium bayi. Komunitas mesti paham pentingnya mengurangi risiko penularan covid-19 pada bayi. Kita tidak bisa tahu siapa yang membawa virus dalam tubuhnya.

3. Ibu menyusui jangan keluar rumah. Sebisa mungkin tetaplah di rumah supaya tidak ada risiko terpapar virus dan menularkan pada bayi.

4. Yang keluar rumah penuhi protokol kesehatan dengan baik. Misalnya suami bekerja, gunakan masker dengan benar, rajin cuci tangan, dan langsung mandi begitu sampai rumah. Jangan menyentuh anak istri sebelum mandi.

“Ini kerja berat, tapi semua harus dilibatkan. Ini tanggung jawab semua, anak adalah investasi kita. Tahun 2045 nanti, anak-anak yang lahir tahun ini yang bakal menjadi para pemimpin. Tetapi untuk covid saja tidak selamat, bagaimana nanti akan jadi pemimpin?” tegas dr Aman.

Kepala BKKBN DR. (H.C) dr. Hasto Wardoyo Sp.OG (K) menambahkan, ibu-ibu harus sadar pentingnya ASI. “Saya sering membantu persalinan, ibu yang melahirkan belum tahu pentingnya ASI. Juga bagaimana menyusui dengan adil kiri kanan supaya tidak bengkak dan sakit. Ini tugas kita untuk memberi pendampingan,” jelasnya.

BKKBN memberikan dukungan penuh untuk penyuluhan tentang pentingnya ASI esklusif dan MPASI yang benar termasuk di masa pandemi Corona ini. “Breast feeding, spasing, stunting, 3-ing ini berkaitan erat. Saat memberikan ASI, terjadi ketidaksuburan. Ini luar biasa bahwa untuk kontrasepsi bisa dengan ASI supaya bisa memberi jarak kelahiran atau spasing. Autisme juga sangat erat hubungannya dengan ASI dan jarak kehamilan. Ketika jarak melahirkan bagus, minimal 3 tahun, tidak ada kekurangan nutrisi, sehingga tidak stunting,” kata dr. Hasto.

 

Artikel pertama kali di siapnikah.org