Cegah Peningkatan Stunting Selama Masa Pandemi Covid-19, BKKBN Tingkatkan Pelayanan IUD Post Partum

Jakarta –  Tahun 2020, dipredikjsi jika dalam kondisi pelayanan yang normal makan akan terdapat jumlah kelahiran sebanyak 4,7 Juta. Namun dengan adanya pandemi, kita mengalami persoalan pada pelayanan. Kondisi ini berpotensi terjadinya kelahiran atau kehamilan yang tidak diinginkan akan meningkat. Ini disampaikan oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, SpOG (K) saat menjadi memberikan sambutan pada acara Webinar dengan topik Gerakan Pencegahan Peningkatan Stunting Selama Pandemi Covid 19 Melalui Pelayanan IUD Post Partum (13/10)

 “Dilingkungan kita ini banyak sekali orang melahirkan dan kemudian tidak ingin hamil di tahun pertama, atau bahkan ditahun kedua belum akan hamil, biasanya kalau ditanya kalau sekarang melahirkan apakah tahun ini mau hamil? jawabannya tidak, apakah tahun depan mau hamil?, jawabannya juga tidak, mestinya dua tahun lagi bahkan tiga tahun lagi”, ujar Hasto.

Menurut Kepala BKKBN, sebetulnya dilingkungan kita banyak mereka yang tidak ingin hamil tetapi belum menggunakan alat kontrasepsi.  Mereka itulah yang baru saja melahirkan atau yang kita kenal post partum.

Oleh karena itu pandai-pandailah kita menyampaikan informasi ini kepada para ibu yang baru saja melahirkan tentunya, kerena mereka ini butuh pendekatan khusus butuh konseling yang baik, dibesarkan hatinya kemudian tidak ditakuti-takuti, pesan Hasto.

“Kalau di Indonesia ada sekitar 4,7 juta perempuan sampai 5 juta perempuan per tahun yang melahirkan.  Kalau hari ini ada di DIY saya kira cukup besar juga, karena setiap 500 ribu ada sekitar 5 ribu yang hamil, sehingga kalau satu juta ada 10 ribu yang hamil, kalau 4 juta ada sekitar 40 ribu mungkin yang hamil dan melahirkan juga setiap tahunnya”, ungkapnya.

Ini menjadi sesuatu yang sangat luar biasa untuk dapat membantu mereka agar kemudian menjaga jarak kehamilan dan persalinan. Semua teori menyatakan bahwa spacing dan stunting itu menjadi satu sebab akibat. Mereka yang pengaturan jaraknya (spacing) bagus atau birth to birth interval atau birth to pregnancy interval, atau dengan kata lain jarak antara hamil dan melahirkan atau melahirkan dengan melahirkan yang jaraknya lebih dari 3 tahun terbukti tidak stunting.

Berbeda halnya dengan jaraknya yang kurang dari 2 tahun, hampir dua kali lipat kejadian stuntingnya. “Inilah makanya spacing atau jarak antara kehamilan dan kehamilan berikutnya atau kelahiran dengan kelahiran berikutnya sangat berpengaruh pada kejadian stunting,” jelas Hasto.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan kasus tertinggi di Asia. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen. Sementara target WHO, angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen. Anak yang stunting (gagal tumbuh) bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, serta produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

Peran BKKBN dalam penurunan stunting melakukan permodelan dengan pendekatan pencegahan.  Salah satunya adalah Program Pengendalian jarak dan jumlah kelahiran dengan KB Pasca Persalinan/Post Partum. Sehinga kotrasepsi menjadi pilihan, dengan kontrasepsi kemudian jaraknya bisa lebih dari 36 bulan harapannya.

Dalam hal ini ada kontrasepsi IUD yang mempunyai tiga keuntungan ketika dipasang setelah melahirkan. “yang pertama tidak sakit itu sudah jelas, kemudian yang kedua itu memasangnya relatif mudah, sebetulnya ngajarin ibu-ibu bidan masang IUD pasca persalinan itu jauh lebih mudah daripada ngajarin masang yang interval yang uterusnya kecil, karena jalannya juga masih lebar dan resikonya juga lebih kecil, serta yang ketiga, IUD itu tidak mempengaruhi ASI. Inilah yang penting sekali saya sampaikan tiga hal yang penting,” ungkap Hasto.

Pelayanan KB tetap dilaksanakan selama pandemi Covid-19 dengan aturan protokol kesehatan yang ketat, sehingga akseptor dan provider terhindar dari penularan. Hasto menegaskan “Pasanglah IUD post partum atau pasca melahirkan karena memang tidak sakit memasangnya mudah kemudian tidak menggangu ASI, ini saya kira keuntungan-keuntungan yang sangat baik untuk kemudian kita bisa melakukan menjaga jarak dalam interval kehamilan”.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian Stunting, ada yang sifatnya sensitif dan  sifatnya spesifik. “Spesifik itu ya ASI, nutrisi atau mungkin penyakit, itu hal yang sifatnya spesifik dalam arti langsung, kaau ASI nya tidak diberikan, kalau makan nutrisinya kurang, kalau ada sakit-sakitan tentu dia langsung bisa membuat pertumbuhan menjadi terhambat,” Jelas Hasto.

Kemudian ada yang sifatnya sensitif, termasuk jarak kehamilan, jarak persalinan, lingkungannya, sanitasinya harus bagus. “Airnya harus bersih jangan menggunakan air kotor untuk keperluan sehari-hari, kemudian juga tidak kumuh lah lingkungan kita supaya tidak banyak diare dan seterusnya, tidak menyebabkan pilek, rumahnya juga dikasih jendela yang cukup,” ujarnya.

Stunting selain berkaitan dengan spacing juga berkaitan dengan masalah lingkungan. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada DKT Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) dan kepada teman-teman di jajaran kedeputian Keluarga Berencana dan kesehatan Reproduksi KBKR atas penyelenggaraan webinar pada hari ini, mudah-mudahan webinar ini dapat betul-betul bermanfaat bagi para provider khususnya bidan-bidan yang langsung menangani pasien-pasien persalinan.

Hasto menegaskan pentingya gerakan pelayanan IUD paska persalinan oleh Provider Bidan/Dokter yang prakek di Fasilitas Kesehatan dengan tetap memperhatikan protokl pencegahan Covid. “Sekali lagi pesan saya, marilah kita galakan penggunaan IUD post partum dan BKKBN akan mensupport alatnya maupun IUD nya  untuk keperluan post partum dan juga mohon doanya ingin berusaha untuk mengakses sumber-sumber anggaran untuk melatih bidan-bidan dalam rangka pemasangan IUD pasca persalinan ini,” tegasnya. (Humas BKKBN)